Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts
Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts

Saturday, 16 April 2016

loga SMA TN format png



Monday, 2 July 2012

Pentingnya Membangun Pendidikan Karakter

Pentingnya Membangun Lingkungan Berkarakter


Kita harus berperilaku dengan cara yang memungkinkan kita berkata kepada semua orang,
“Berperilakulah seperti aku”



Banyak sekali email yang masuk dan bertanya apa kunci sukses Pendidikan Karakter. Nah, Kali ini kita akan membahas tentang kunci tersebut, kita akan bahas pentingnya sebuah lingkungan yang berkarakter bagi keberhasilan Pendidikan Karakter. Setujukah anda, bahwa untuk mencapai Pendidikan Karakter yang bermutu dan maksimal, dimulai dengan membangun sebuah lingkungan yang berkarakter?
Baiklah, sebelum kita ulas, saya pernah mendengar sebuah pepatah kuno mengatakan: apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut wangi. Sedangkan berteman dengan penjual ikan, maka kita akan ikut amis. Marilah kita renungkan sejenak. Sebenarnya ungkapan tersebut sangat sesuai menggambarkan peran lingkungan dalam kehidupan kita. Lingkungan sangat menentukan proses pembentukan karakter diri seseorang. Lingkungan yang positif bisa membentuk kita menjadi pribadi berkarakter positif, sebaliknya lingkungan yang negatif dan tidak sehat bisa membentuk pribadi yang negatif pula. Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter-karakter individu yang ada di dalamnya.
Seorang anak kecil yang terbiasa berkata kotor, tentu saja ia meniru dari sekitarnya. Anda tidak perlu jauh-jauh mencari penyebab anak tersebut suka berkata kotor. Tentu saja itu adalah hasil meniru dari lingkungannya. Untuk mengatasinya, lebih baik anda mengatasi dari sumber masalahnya. Untuk menanggulangi penyakit, jangannya anda menunggu salah satu anggota keluarga anda sakit lantas mengobatinya. Bukankah lebih baik anda mulai mengatur pola hidup sehat, sehingga penyakit tidak akan menyerang dan menjangkiti anda. Inilah yang saya maksud dengan mengatasi persoalan dari sumbernya.
Lalu, apakah sumber masalah anak kita berkata kotor? Saya yakin, anda pasti akan memerintah anak anda untuk berhenti berkata kotor, lalu kalau anak anda kembali mengulang dan tidak patuh dengan perintah anda, anda akan memukulnya. Namun, anak anda justru semakin menjadi-jadi karena ia merasa tidak diberi hak untuk mengatur dirinya sendiri. Anda tidak akan mudah meminta si anak yang terbiasa berkata kotor itu untuk berhenti berkata, sementara orang lain juga melakukan yang sama. Untuk itu, titik pemecahannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak dan individu yang tinggal di dalamnya.

Lingkungan yang berkarakter sangatlah penting bagi perkembangan individu. Lingkungan yang berkarakter adalah lingkungan yang mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai karakter dalam kehidupan, sepeti karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran / amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong, gotong royong / kerjasama dan lain-lain. Karakter tersebut tidak hanya pada tahap pengenalan dan pemahaman saja, namun menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Barangkali dalam benak anda terbayang betapa susahnya membentuk lingkungan yang berkarakter. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri yang selanjutnya diteruskan dalam lingkungan keluarga. Diri sendiri harus dibenahi terlebih dahulu sebelum membenahi orang lain. Biasakan membangun pola pikir positif, melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, membangun karakter diri yang pantang menyerah dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga kita biasakan menerapkan nilai-nilai tersebut. Misalnya, terbiasa jujur dan terbuka pada anak, memberi kesempatan anak berpendapat dalam memutuskan bahan dekorasi rumah, mengajak anak berunding tentang tempat les sekolah, dan mengajak anak untuk ikut berbagi peran dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal itu bagian dari proses membangun karakter anak. Salinglah tolong-menolong sesama anggota keluarga. Biasakan anak mengeksplor dirinya. Memberi kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya. Itu merupakan proses demokrasi dalam keluarga.
Kebiaasaan-kebiasaan positif semacam itu pada akhirnya akan diteruskan oleh si anak pada lingkungan sosial yang lebih besar, yakni di sekolah dan masyarakat. Keluarga adalah institusi pertama tempat anak membangun karakternya. Kita sebagai orang tua hendaknya menerapkan pola asuh dan pendidikan yang sehat dan baik dalam keluarga. Dengan begitu, anak-anak kita yang telah tertanam kepribadiannya akan menjadi pribadi yang menyebarkan karakter positif pada lingkungan. Di sekolah, pendidikan karakter juga hendaknya diwujudkan dalam setiap proses pembelajaran, seperti pada metode pembelajaran, muatan kurikulum, penilaian dan lain-lain.
Pernahkah anda memberi kesempatan pada anak anda meluangkan waktu untuk bermain? Atau mendorong anak anda untuk menekuni bakat dan minat yang dimilikinya. Sebenarnya kesempatan bergaul dengan sebaya merupakan proses pengembangan karakter anak. Dengan bergaul, anak akan belajar memahami dirinya dan orang lain. Dengan demikian ia akan belajar bagaimana membangun hubungan dengan orang dan lingkungannya.

Di lingkungan sekolah sebenarnya anak didik memiliki wadah untuk mengembangkan diri dan membangun karakter diri melalui kegiatan ekstrakulikuler. Pendidikan ekstrakulikuler merupakan media untuk membangun rasa tanggung jawab, kemampuan bersosialisasi dan interaksi, toleransi, bekerjasama dan lain-lain.
Namun, seiring dengan tuntutan sekolah dengan berbagai mata pelajaran dan pelatihan untuk Ujian Nasional telah menyita waktu untuk mengembangkan diri mereka. Apakah anda termasuk orangtua yang hanya mendorong anak untuk terus belajar dan mengabaikan minat dan hobi yang dimilikinya? Jika iya, cepat-cepatlah merubah cara pandang anda dan beri kesempatan anak untuk membagi waktu belajar dan bermain.
Kenyataan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi sekolah hendaknya kita sadari. Benar adanya bahwa kemampuan menjalin hubungan dan kecerdasan emosional sebagian besar menentukan proses pengembangan diri dan meraih keberhasilan.
Jika memang demikian, marilah kita ciptakan lingkungan yang berkarakter. Sehingga, putra-putri kita kelak akan menjadi generasi berkarakter yang tidak pantang menyerah ketika menghadapi tantangn dalam hidupnya. Dan mereka akan selalu optimis dalam meraih kesuksesan dengan bekal nilai-nilai yang telah tertanam dalam lingkungan yang berkarakter tersebut.

Sumber : http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-membangun-lingkungan-berkarakter/

Pembelajaran inovatif


Inovasi  adalah kreasi begitulah wikipedia mendefinisikan  dengan sinonimnya. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa inovasi membuat produk, proses, cara, pelayanan, teknologi, atau gagasan lebih unggul dan baru sehingga seluruh bagian keunggulan dan kebaruannya diakui pasar, pemerintah, maupun masyarakat. Inovasi sering dimaknai sama dengan kreasi.
Inovasi berbeda dengan penemuan baru. Makna Inovasi lebih menekankan pada penerapan ide baru sehingga produk inovatif berupa produk baru, proses baru, layanan baru, teknologi baru,  sedangkan penemuan baru merujuk secara langsung pada pengolahan pikiran kreatif  sehingga menemukan ide baru atau metode baru.
Penerapan mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan inovatir pada proses pembelajaran sering tidak sempat kita bedakan dengan cermat. Selain karena makna keduanya sering ambigu, juga membedakan keduanya pun bukan yang teramat penting. Yang jauh lebih penting adalah guru meletakkan kedua istilah itu dalam konteks kecakapan berpikir kreatif dan inovatif yang dihubungkan dengan pengembangan penguaan informasi baru, menemukan hal baru, dan menghasilka karya yang baru bagi siswa.

Friday, 20 January 2012

Berfikir Kritis


Studi berpikir kritis suatu subyek atau masalah dengan pengertian yang luas (terbuka).
Proses dimulai dengan sutau pernyataan apa yang akan dipelajari,
menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan,
dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasarkan pada kejadian.
Alasan-alasan, penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli membandingkan dan membentuk lembaga penilaian.

Metode Pemecahan Masalah



Apakah sistem pembelajaran yang diselenggarakan dengan konsentrasi pada latihan pengerjaan soal yang semakin menguat diimbangi dengan pengembangan ketrampilan siswa bertanya? Pertanyaan ini muncul setelah saya melaksanakan tugas mensupervisi  guru mengajar dan mendapatkan fakta bahwa sulit mendapatkan guru yang mengembangkan keterapilan siswa bertanya.

Monday, 19 December 2011

Pendidikan Entrepreneurship


Abad 21 membuka persaingan kehidupan antar bangsa semakin meluas, dan berdampak langsung secara serius terhadap tuntutan peningkatan kualitas SDM melalui penyelenggaraan sistem dan model pendidikan yang bermutu, dan mampu menyiapkan SDM dalam menghadapi tantangan zaman.
Di USA, Eropa dan banyak negara-negara lainnya menempatkan pilihan model pendidikan entrepreneurship sebagai upaya untuk memersiapkan SDM yang dapat menjawab tantangan hidup di era globalisasi ini. Alasan utama di sebagian besar negara tersebut adalah akibat resesi ekonomi serta banyaknya pengangguran yang semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya lulusan sekolah setiap tahun. Selain alasan tersebut, saat ini para pengambil keputusan di banyak negara mulai menyadari peranan nyata entrepreneurship terhadap pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan regional. Hal ini mengindikasi bahwa pertumbuhan entrepreneursip baru adalah solusi untuk menekan laju pengangguran dan sebagai upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi kemakmuran masyarakat.

Teknik Analisis Data



Teknik Analisis Data - Setelah data penelitian terkumpul, maka perlu ada proses pemilahan data dan kemudian dianalisis dan diinterprestasikan dengan teliti, dan cakap sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang objektif dari suatu penelitian. Analisa data  adalah kegiatan untuk memaparkan data, sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu hipotesis. Batasan ini diungkapkan bahwa analisis data adalah sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide. (Lexy J. Moleong, 

Jenis - Jenis Metode Pembelajaran




Jenis- Jenis Metode Pembelajaran
a. Metode Pembelajaran - Metode Ceramah 
Metode ceramah merupakan metode yang paling umum atau paling banyak digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Wina Sanjaya mendefinisikan “ metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung  kepada sekelompok siswa.” (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 147.) “ Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar.” (Yatim Riyanto, Pengembangan Kurikulum, h. 27.)   

Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian, bahkan merupakan suatu keharusan bagi seorang peneliti. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data, yaitu metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi.
 1.    Metode Observasi 
Metode observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala pisis untuk kemudian dilakukan pencatatan.  Dalam kaitannya dengan penelitian ini penulis langsung terjun ke lapangan menjadi partisipan  (observer partisipatif) untuk menemukan dan mendapatkan data yang berkaitan dengan fokus penelitian, yaitu, Tinjauan hukum  Islam terhadap sistem ganti rugi pengiriman barang yang hilang atau rusak. 

Saturday, 17 December 2011

Karakteristik Quantum Learning


Karakteristik umum yang membentuk sosok pembelajaran kuantum sebagai berikut: 
• Quantum belajar berasal dari psikologi kognitif, fisika kuantum, meskipun tidak semua syarat dan konsep bit kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang mengajar, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum. 

7 Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (CTL)

CTL (pembelajaran kontekstual) sebagai pendekatan untuk belajar memiliki 7 prinsip.Prinsip-prinsip yang mendasari pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan CTL (pengajaran dan pembelajaran kontekstual). Tujuh prinsip meliputi: 

1. Konstruktivisme 
Konstruktivisme adalah proses membangun atau mengembangkan pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengalaman yang dipenuhi oleh luar, tapi dibangun oleh dan dari dalam diri sendiri.Oleh karena itu, pengalaman yang dibentuk oleh dua faktor penting yaitu objek menjadi subyek pengamatan dan kemampuan untuk menafsirkan objek. 

Aplikasi Blended Untuk Peningkatan Keterampilan Berpikir Ilmiah Siswa


Model aplikasi metode blended dengan cara mengintegrasikan berbagai metode pembelajaran tradisional dan metode pembelajaran berbasis komputer dan internet dapat meningkatkan kolaborasi guru-siswa di dalam maupun di luar kelas. Dengan meningkatnya penggunaan internet melalui hand phone (seperti: SMS, Black Bary, e mail) oleh para siswa dapat guru manfaatkan untuk melalukan kerja sama kapan pun dan dari mana pun.
Alangkah lebih baik jika guru dapat memfasilitasi siswa memanfaatkan sumber belajar yang telah guru sediakan dalam jejaring internet di samping menggunakan sumber cetakan dalam bentuk buku atau sumber yang lain. Dengan tersedia banyak sumber belajar siswa siswa dapat belajar kapan pun dan di mana pun sehingga waktu belajar siswa menjadi lebih banyak. Konsultasi dan kerja sama guru-siswa  dapat meningkat dengan bantuan teknologi.

Monday, 28 November 2011

Sepuluh Fungsi Utama Internet dalam Pembelajaran


Bersamaan dengan pesatnya perkembangan penggunaan internet oleh generasi muda berpengaruh kuat pada perkembangan penggunaan intenet dalam dunia sekolah. Guru-guru muda dengan cepat menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa yang semakin terintergasi pada fungsi internet.
Guru-guru yang mengikuti pendidikan sebelum gembyar internet seperti sekarang tidak punya pilihan lain selain meningkatkan kompetensinya dalam pemanfaatan intenet untuk pembelajaran.

Mengunduh Buku dari Internet


Mencari referensi dalam bentuk buku atau jurnal yang gratis dari internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Jika semakin banyak buku yang didapat dengan mudah serta sesuai kebutuhan, maka internet semakin dirasakan penting karena nyata bermanfaat. Proses mencari buku  di  internet semakin mudah.
Salah satu alamat yang dapat pembaca gunakan adalah nu.library. Untuk mendapatkan pelayanan di web ini pengguna harus memiliki alamat gmail terlebih dahulu. E mail itu  syarat pengisian data register.
Kiat  praktis menggunakan nu library dapat mengunakan langkah :
Pertama, kita mendaptarkan diri kita  dengan mengisi data pada menu register seperti pada gambar berikut:

Pembelajaran “Blended” untuk RSBI


Fokus pada peningkatan mutu pembelajaran  merupakan kunci sukses program RSBI saat ini. Sukses dalam pembelajaran akan  meningkatkan stabilitasi akibat guncangan paradigma yang mendasari pelaksanaan program akhir-akhir ini. Pembelajaran yang bermutu harus dapat mengantarkan lulusan berkeunggulan yang adaptif  terhadap perubahan. Dalam meningkatkan respon positif dari publik, model pembelajaranblended perlu diimplementasikan.
Apakah Pembelajaran Blended?
Pembelajaran blended merupakan metode mengajar yang menggabungkan berbagai metode pembelajaran metode pembelajaran tradisional dalam bentuk tatap muka dengan metode pembelajaran modern yang berbasis komputer.
Menurut para pendukungnya, strategi ini menciptakan lingkungan belajar dengan pendekatan yang mengintegrasikan pendidik dan peserta didik dalam interaksi tatap muka dan bermedia. (Wikipedia; 2011) Dengan menggunakan media komunikasi,  guru dan siswa dapat berkomunikasi kapan pun dan dari mana pun.

Monday, 31 October 2011

Perlukah Pendidikan Karakter Dinyatakan Dalam Indikator Hasil Belajar?


Haruskah pendidikan karakter dirumuskan dalam indikator pembelajaran di silabus dan RPP?  Sebagian ahli pendidikan menyatakan bahwa karakter sebaiknya tidak dinyatakan dalam bentuk indikator kompetensi pencapaian belajar, cukup di kegiatan pembelajaran. Alasannya, bila dimasukkan dalam indikator, maka guru harus membuat alat penilaian yang mengukurnya.
Sebagian ahli menyatakan bahwa pendidikan karakter wajib dinyatakan dalam indikator komptensi pencapaian hasil belajar dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, harus dapat di ukur. Adakah juknis yang dapat menjadi pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran  tentang karakter? Atau, bagaimana sebaiknya?
Pernyataan dan pertanyaan itu terungkap dari Bu Novi salah satu rekan kita yang berkunjung di GP. Saya mengangkat pernyataan dan pertanyaan tersebut dari komentar ke halaman ini  untuk menjawabnya dengan harapan dapat dibaca pula oleh rekan kita yang lain.

Pembelajaran yang menyenangkan


Pembelajaran yang Menyenangkan : Model “Pemainraskidal”

Sebagian dari faktor yang menentukan manusia meraih keberhasilan adalah ketekunan berusaha yang dilandasi dengan kecerdasan pikiran dan keteguhan hati. Kecerdasan menentukan keberhasilan berstrategi, keteguhan hati menjadi energi gerak motivasinya. Sesuatu yang diterima  hatinya dan difahami dengan cerdas berpikirnya akan lebih mudah dipelajarinya.
Masalahnya adalah bagaimana proses manusia menyukai sesuatu itu bisa berkembang? Logika dan suasana hati bagai pasang surut seperti air laut karena pergantian malam dan siang. Pikiran menjadi terang jika hati  tenang. Hati tenang ketika logika berjalan . Pikirannya tidak tenang memubuat pikiran terhenti hingga lututpun gemetar kencang. Kata-kata jadi hilang.
Contoh orang yang  sedang tidak dapat mengendalikan perasaan hati sehingga emosinya diluar kendali. Orang tidak hanya kehilangan kata-kata dan pikiran jernih jika dalam  keadaan berang. Itulah sebabnya otak dan hati itu terbukti erat terkait.

Tuesday, 5 July 2011

Kompetensi Siswa Abad 21

Masyarakat dunia telah berada pada tahun ke-11 di  abad ke-21. Apa yang diramalkan dalam satu dasawarsa ke belakang kini terjadi, revolusi teknologi berkembang dramatis. Kita sekarang hidup di sebuah masyarakat-media semakin beragam, mengglobal, dan kompleks.
Informasi makin deras mengalir. Para siswa memiliki kecepatan yang lebih tinggi daripada guru-gurunya dalam menyerap informasi apa pun. Entahlah apa yang akan terjadi jika murid-murid lebih menguasai bahasa teknologi daripada gurunya. Apa yang akan terjadi 5 tahun mendatang, 10 tahun, apalagi 20 tahun. Sekolah mempersiapkan siswa dengan cara-cara yang ketinggalan di belakang.
Sementara itu, ancaman degradasi kehidupan karena daya dukung alam yang semakin terbatas. Kota-kota besar makin padat manusia, kendaraan, dan sepeda motor.  Kita sedang menghadapi masalah pemanasan global, kelaparan, kemiskinan, masalah kesehatan, ledakan populasi penduduk, krisis energi, kekerasan sosial dan bencana alam. Masalah-masalah ini menyebabkan kebutuhan siswa untuk dapat berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi dengan perubahan semakin kritis. Tantangan untuk menyelaraskan kehidupan pribadi, sosial, ekonomi dan politik pada tingkat lokal, nasional dan global perlu dipersiapkan lebih prisisif.
Anak-anak Indonesia tidak semuanya beruntung mendapatkan penguatan untuk mengantisipasi berbagai perbedaan dan  perubahan. Dunia belajarnya disiapkan untuk menghadapi kehidupan nyata. Pendidikan yang melatih mereka meningkatkan daya tahan pribadi dan daya adaptasi terhadap perubahan.
Sekolah memperkenalkan siswa  pada teknologi terbaru, kolaborasi dalam konteks global yang menyediakan peluang mengembangkan wawasan tentang kemungkinan yang sangat luas menemukan hal yang baru,  energi baru, kemajuan medis, pemulihan kerusakan lingkungan, pengembangan komunikasi, hingga eksplorasi ke ruang angkasa dan ke kedalaman lautan. Untuk mereka ada banyak kemungkinan bahkan tak terbatas.

Thursday, 30 June 2011

Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah


STRATEGI DAN IMPLEMENTASI
PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DI SEKOLAH MENENGAH
Oleh
Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara
Disampaikan pada acara kunjungan Guru, Kepala Seklah Berprestasi Se-Jateng


I. PENDAHULUAN

1.            Latar Belakang Masalah
          Proses globalisasi yang terus bergulir, diiringi dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) memungkinkan terjadinya perubahan lingkungan strategis yang berdampak luas terhadap eksistensi dan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari aspek eksternal, globalisasi menimbulkan pertemuan antar-budaya (cultural encounter) bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Dengan dukungan kemajuan teknologi informasi, kini batas-batas antar-negara dan antar-bangsa menjadi semakin kabur, yang diiringi dengan semakin kaburnya identitas budaya dan karakter suatu bangsa. Kondisi ini berakibat pada terjadinya sengketa norma dan kegoyahan nilai, yang selama ini diyakini dan dijunjung tinggi oleh suatu entitas yang kita kenal dengan ”negara-bangsa”. Dengan kata lain, globalisasi berdampak pada terjadinya perubahan sosial (social change)  besar-besaran, yang belum tentu semua perubahan itu ”kongruen” dengan kemajuan sosial (social progress).
Dari aspek internal, kondisi objektif bangsa Indonesia yang memang sejak diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan negara-bangsa yang dibangun di atas keragaman dan perbedaan, yakni perbedaan suku, agama, ras, etnis, budaya, dan lain-lain. Keragaman ini bak pedang bermata dua, satu menuju ke arah sasaran dan satu menghadap ke ulu hati kita. Di satu sisi, jika mampu mengelolanya dengan baik, maka keragaman ini akan menimbulkan keindahan dan harmoni bagaikan simfoni orkestra yang terdiri atas beragam alat musik yang memiliki karakteristik berbeda. Sebaliknya, jika kita tidak mampu mengelolanya, maka keragaman ini justru akan menjadi pedang yang mengincar ulu hati kita, karena keragaman itu memiliki potensi memunculkan perselisihan dan sengketa yang mengarah ke perpecahan dan disintegrasi bangsa. Arus globalisasi akan dapat memperparah kondisi semacam ini.

Monday, 30 May 2011

Pendidikan Karakter Bangsa


Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Karena Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Nagara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Oleh karena itu, lebih awal pendidikan karakter bangsa dimulai dari lingkungan pendidikan dasar. Pada perangkat di pendidikan dasar inilah norma-norma pendidikan karakter bangsa akan ditanamkan lebih awal.

Guru harus mengetahui indikator karakter bangsa ini, untuk bisa memasukkan kedalam bimbingan siswanya. Pendidikan karakter bangsa sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa. Indikator karakter bangsa, dapat dimasukkan kedalam program pembelajaran.
Di bawah ini beberapa petunjuk / pedoman yang bisa membantu guru di dalam menyusun program pembelajaran karakter bangsa, semoga bermanfaat.

1. Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa
2.  Kata Kerja Operasional   
3. Penilaian Proses Pendidikan Karakter Bangsa
4. Keterkaitan dan Indikator Pendidikan Karakter Bangsa


 
Design by FreeWordpress Themes | Bloggerized by Lashanta - Premium Blogger Themes | Ilo Kimia Wk, SMA TN 35